Sunday, December 7, 2014

PHP: Travel Tips in Uncertainty



A: Eh liburan Natal besok kita pergi ke Pulau Lombok yuk, mau?
B: Boleh, elo atur aja, gue ngikut.
A: Hmmm... ga PHP kan? #curiga.
B: Ntar H-1 gue kabari lagi ya, hehehe.
A: Iyaaa ditunggu yaaa #gampar.

A: Eh, seru gak sih kalau liburan besok kita ke "Negeri Atas Awan", Dieng?"
B: Seruuuu... ayo gue gak ada kerjaan neh.
A: Eh, tapi bukannya lagi musim hujan? Gak jadi deh.
B: Hmm gapapa sih, yang penting hati-hati dan kita maen di kawahnya aja gak usaha ke atas-atas banget. Kalau nunggu gak ujan atuh lama, kan mang lagi musim hujan. Udahlah ya, cus. Besok ketemu di terminal jam 7 pagi.
*H-10 menit besoknya*
A: Lo dimana? gue udah sampe terminal neh.
B: Eh, kayakna mau hujan deh bentar lagi. Langitnya udah gelap. Gue ntar dimarahin mamih kalau ujan-ujanan. Gak jadi aja deh ya, serem lagian ntar di sananya.
A: Oh ya gapapa. Lo posisi di koordinat berapa? *siapin bom atom*

Hi bro! pernah enggak sih lo di-PHP-in? atau mungkin elo lagi yang nge-PHPin? atau lo masih belum tahu kepanjangan dari PHP? Oke fine, PHP itu "Pemberi Harapan Palsu" gitu bro. Jadi kaya semacam sesuatu something mahluk yang berbau-bau ketidakpastian yang terkadang disengaja atau ga disengaja. Gitu sih kayaknya. Ternyata PHP tuh enggak cuma dialami para jombloers yang haus kasih sayang, tapi bisa juga buat traveler. Kali ini gue mau berbagi tips biar kita bisa meminimalisir untuk enggak nge-PHP-in atau di-PHP-in anak orang. 
  1. Sebelum elo ngajakin atau nge-iya-in liburan, make ensure kalau komponen penting udah siap, kayak uang, waktu, dan izin dah lo kantongin. Jangan lo nge-iya-in padahal lo tahu kalau minggu depan lo bakal ada urusan penting. Jangan lo ngajak liburan temen lo yang hobinya ngabisin duit buat kredit panci dan lemari. Jangan juga lo nge-iya-in, padahal lo tahu jatah cuti lo tahun ini udah abis atau baru dapat cuti pas Pak Jokowi lengser #fiuhhh.
  2. Waspada akan hal buruk yang mungkin terjadi ya, seperti kemalingan, dinas luar dan lembur dadakan, sakit, dan sebagainya. Hal kayak gini neh yang mungkin terjadi dan ngegagalin rencana liburan kita. Persiapkan semuanya dengan baik untuk meminimalisir kemungkinan hal buruk terjadi, seperti tabung uang sesuai budget, pengajuan cuti (min H-1 bulan), beli tiket jauh-jauh hari, dan sebagainya. Oya semakin lama tanggal liburannya berkolerasi semakin besar kemungkinan PHP, so please keep in touch with your travel partner (pastikan sikon setiap bulan/minggunya). Jika perlu, lo putusin dulu pacar lo, biarkan perhatian lo tercurahkan untuk rencana traveling semata, muehehehe.
  3. Buatlah time management yang baik. Lo bisa buat kayak traveling schedule check where you can make a list to do, misalnya kapan lo cari info-info terkait lokasi, cari tiket, cari hotel atau temen (buat nebeng), nyusun itinerary, fiksasi kesiapan travel partner lo, beli baju baru (ga terlalu penting sih ini), kapan lo pamit ke Pak Lurah (GA USAH kalau ortu lo bukan lurah) dan sebagainya. 
  4. Jangan asal ngajak temen to be your travel partner. Cari temen lo yang emang suka jalan, terpercaya dan ga doyan jambu (janji buta) atau suka php-in pacarnya #eh. 
Baik, mungkin itu sedikit yang bisa gue bagi sih. Gue tahu beberapa orang biasanya suka enggak rela kalau nglewatin ajakan temen liburan, beberapa orang mungkin ga enakan nolak. Gue tahu juga kalau apa aja bisa terjadi ke depannya. Tapi gue tahu bahwa kita bisa mencegah, meminimalisir atau mungkin memprediksi bakal PHPkah kita? Semoga bermanfaat :) 

Thursday, November 6, 2014

Palu: A Scenic Bay, Stunning Mountains, and A Piece of My Life

"Huakakakak, huakakak", kakak-kakak dan keponakan-keponakan gue tertawa kegelian seketika ikan-ikan menggigit sel-sel kulit mati mereka. Semua duduk berjajar menyemplungkan (red:menyelupkan) kaki-kakinya ke kolam fish therapy, salah satu fasilitas di RM Pring Cendani.

Acara makan malam bersama kayak gini sangat jarang diadakan di keluarga kami. Alasannya adalah bapak-bapak rumah tangga biasanya sok sibuk dengan kerjaan di sawah, di dapur atau di bengkel. Kalau enggak, biasanya belum ada keluarga kecil kakak gue yang punya hajat dan berniat traktir anmakan-makan, hahaha. That's why gue nyempetin pulang ke rumah kemarin walaupun harus lari-larian sampe kereta (H-5 menit baru duduk dalam kereta Jakarta-Tegal). Ini juga salah satu alasan gue memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan gue kemarin. Ya, keluarga.

Sejujurnya, gue seneng bisa bekerja di tanah Celebes, even tinggal dan bekerja di tengah-tengah kebon kelapa sawit. Soalnya, gue bisa "memperawani" pantai-pantai dan daratan-daratan kece di sekitarnya, dan gue sempet walaupun secuil menginjakan kaki ini di surganya tanah celebes. Tapi banyak hal yang gue pertimbangankan, sehingga selepas masa training memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini.

Kebon Kelapa Sawit
Gue dan keluarga masih belum ikhlas gue kerja dalam waktu yang lama di dalam kebun. Maaf, cukup buat gue pengalaman bekerja setengah tahun ini (selesai kontrak training). Kami sependapat, bahwa rejeki, Allah turunkan dimanapun. Bahkan kami percaya bahwa kota kelahiran kami ini merupakan tambang rejeki yang gak ada habisnya untuk sekedar bahagia dan mencari bekal di dunia ini. Gue pribadi cukup, dengan yakin kepada Allah, mengantongi ridho orang tua dan percaya pada diri, gue bisa meraih segalanya, tentu berusaha disertai doa. Terima kasih atas pelajaran yang luar biasa ini. Terima kasih buat HRD gue yang sudah bijak menghargai keputusan ini. 
NB: Kita tahu setiap kita punya rencana dan gambaran sukses masing-masing, jadi cobalah untuk bijak. :D #sekilasinfo
Oke, di Celebes kemarin gue tinggal di kota yang superduber kece banget pake triple z (bangetzzz). Gimana enggak, Kota Palu ini bro, itu adalah ialah yaitu sebuah kota yang tumbuh dan berkembang di sebuah teluk yang meneluk cantik luar biasa. Jadi kaya setengah lingkaran oval gitu  dan kiri-kanannya deretan menjulang pegunungan yang bukan maen. Lo kaya bisa melihat ujung satunya dari ujung yang lain. Kalau lo mau cepet sampe ujung ke ujung, lo bisa nyelem atau renang dari satu ujung ke ujung yang lainnya (risiko ditanggung sendiri tapinya). 

Palu dari ketinggian

Our way
Batu Oge Beach
Sebenarnya, gue tinggal di sekitar kawasan-kawasan perbatasan gitu, antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Karena keduanya epic dan serasi banget, gue bakal ceritain lebih lanjut keseruan-keseruan selama kurang lebih enam bulan di sana. Khususnya Palu sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. 

Tanjung Karang Beach
Palu atau hammer (hehe) emang pecah banget memecah keindahan pantai di sana. Pantainya beda dengan pantai selatan yang berombak besar atau pantai utara yang rata-rata berpasir item bro, pantai di sana itu pasir putih, tenang dan airnya berwarna biru agak semacam ketoska-toskaan, hmm biru toska mungkin. Coba berkunjunglah ke pantai-pantai di Kota Palu dan sekitarnya, kayak Pantai Taipa, Pantai Tanjung Karang, Pantai Batu Oge, dan lain-lain.

Tanjung Karang Beach
Tanjung Karang Beach
Taipa Beach
Talise Beach
Talise Beach
Di sana, lo bisa nemu pusatnya laut yang berbentuk lubang cukup gede dan diisi air biru dan lo (soalnya gue belum berani) bisa terjun ke dalamnya. Fenomena ini dinamai Pusat Laut, kurang lebih dalamnya 5 meteran. Dan yang bikin makin remuk, lo mesti naek dulu ala-ala ke bukit, bisa naik motor/mobil kecil. And then, di atas puncaknya, lo bakal melihat pantai biru-toska bersanding dengan pohon ijo-royo-royo (udah tampak surga dunia), Kemudian, baru turun dan nemu surganya pantai bro.

Pegunungan/bukit sebelum Pusat Laut
Pusat Laut

Wednesday, October 29, 2014

Batu City: A Full Package of Fantastic Journey

Udara pagi itu sedikit berbeda dari beberapa tahun yang lalu, tidak sedingin dulu. Ah, mungkin aku lupa karena terlalu lama, tapi tidak aku cukup yakin dengan itu. Sama dengan perasaanku saat ini, dingin, dingin sekali. Aku sendiri bermain dengan sepi. Kami sedang berjuang atau mungkin sibuk dengan "permainan" kami saat ini. 

Dulu kami ke sini, beberapa tahun yang lalu, ke Kota Wisata, Batu. Waktu itu, sesekalinya kami traveling bersama, dan hanya sesekali itu. Mengendarai motor selama 4 jam, makan sate kelinci dan bakso bakar, bermain di Jatim Park 1, lalu berakhir di Batu Night Spectacular. Semuanya sekali saja tapi sekali yang tidak terlupakan sampai sekarang. 

Kami berjanji akan ke sini lagi, full team tapi belum tahu kapan. 


Yaaahhh, akhirnya gue ke sini lagi. Gue tinggalin mereka yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka. Sedangkan gue? Ini juga bagian dari pekerjaan gue saat ini. Ya, jalan-jalan. Muehehehe. 

Kali ini gue pergi bareng cewek cantik, seksi dan pintar tapi sayang masih jomblo, Muehehe *yang mau hubungi gue aja* *lumayan serius*. Gue harap doi bisa menikmati statusnya, karena gue juga seneng banget sebagai bujangan. I'm single and I'm happy *dangdutan* *promo buy one get one*


Perjalanan ke Kota Wisata Batu, gue mulai dari Kota Surabaya, dari Persebaya menuju Arema Malang. Yaahhh gue ke Kota Malang.  
Dari Surabaya Gubeng (SGU) Ke Malang (ML) naeknya Kereta Api bro. Orang-orang biasa menyebutnya Commuter. Ada yang Ekonomi (Penataran Ekonomi) Rp 5 000 ada juga yang Eksekutif (Penataran Ekspress) Rp 25 000. Murahhhh meriahhh, laris manis *bahagia sampai khilaf*.
Tips: Oya bro, Stasiun Surabaya Gubeng Lama dan Baru itu bagaikan dua belah pan*** yang gabisa terpisahkan. Both of them hanya dipisahkan oleh rel kereta api. Tapi, kalau mau pergi dari stasiun ke stasiun lainnya enggak boleh melintas melalui rel kereta api. Lo mesti muter dari pintu depan stasiun yang satu to another one dengan jarak +/- 500 meter. Oleh karena itu perlu diperhatikan, kalau kalian mau beli/pesan kereta api ekonomi, ke Stasiun Gubeng Lama, sedangkan kalau kereta eksekutif ke Stasiun Gubeng Baru. Kalau ga mau repot, kalian bisa sih pesan di Indomar*et terdekat. Muehehehe. Oya, sedihnya juga kalau mau pesan kereta api ekonomi ini, kalian hanya bisa ngantri di Stasiun Gubeng Lama (ga dijual di minimarket/pihak ketiga, orang harga tiketnya lebih murah dari biaya administrasinya Rp 7 500). Tapi FYI nomor antrian di Stasiun Gubeng Lama setiap harinya mencapai ratusan *die* #CMIIW
Pagi Kota Malang itu, ga semalang yang gue kira. Justru sebaliknya kota Ngalam*^* ini sumringah abis bro. Lo tuh bisa kaya dapat pemadangan kota dengan suasana atau kesegaran di daerah. I feel free bunga-bunga banget dah.  

*^*orang Malang terkenal suka membalikan kata-kata.

Pagi itu pukul 08.00 WIB gue sampai di Stasiun Kota Malang. Pemandang di stasiun ini didominasi para traveler yang super duber banyak dan variatif penampilannya. Ada yang ala-ala ngartis pake kacamata item segede kaca helm. Ada juga yang bawa-bawa carrier segede almari kos-kosan. Pokoknya kota ini emang kota wisata abis bro. Jadi banyak banget super traveler sejati pake banget yang mampir ke kota ini.

Stasiun kereta Malang sayangnya belum punya toilet umumnya, jadi kalau kalian nanya "Pak, toilet dimana ya?" jawabanya adalah "Bapak keluar stasiun terus jalan sampai ujuuuung sana, di penitipan sepeda". Gue curiga, dan iya aja, itu toilet punya mamang-mamang yang berbayar. #CMIIW

Oke lupakan masalah toilet itu, balik ke kota yang superkece ini. Jalan kaki dari stasiun aja lo dah bisa nemu spot yang oke, yaitu Balaikota Kota Malang. Bangunannya tuh sejarah banget penampakannya dan adem karena banyak pohon gede, tinggi, panjang dan berkelok-kelok batangnya yang super kece banget jika di potret *maap gue ga sempet motret, karena lagi bawa motor*

Kota Batu sendiri itu hanya berjarak kurang lebih 30 menit dari Kota Malang. Oya, kota ini bukan termasuk di dalam Kota maupun Kabupaten Malang loh. Jadi kota wisata kece ini berdiri sendiri sebagai Kota Madya. Katanya sih baru gitu, tapi gue enggak tahu banyak, karena tour guide gue kali ini bukan arek Malang bro, tapi gadis Kota Palu yang hidup di Kota Malang hanya buat maenan thesis #kelihatannyagasesepeleitusih #thesis #CMIIW

white peacock
Karena gue baik, gue kasih tahu  deh angkot Malang-Batu *buat lo yang ngeteng sedih*
Dari Stasiun Malang - Terminal Landung Sari: Angkot AL Rp 3 000, Terminal Landung Sari - Kota Batu (Depan banget Jatim Park 2): Angkot Kuning Rp 5 000. NB: Angkot ke Kota Batu sepi jam 17.00
Sampailah kami ke Jawa Timur Park 2. Di tempat wisata dengan genre nature, knowledge, park, and animals ini terdiri atas tiga wisata, yaitu 1. Batu Secret Zoo, 2. Museum Satwa, dan 3. Eco Green Park *gue cuma mampu ke Eco Green Park dan foto di depan sisanya* *noneedcomment*. 
no need caption :p
fashionista
Eco Green Park opens start from 10.00 am. Ticket Monday-Thursday: 40 000 IDR, Friday-Sunday/Holiday: 60 000 IDR 
Si burung angkuh yang kece

Thursday, October 23, 2014

Jakarta: A Mini Park of Beautiful Indonesia

Udara pagi menyelinap pintu kosan gue pagi itu. Bogor pagi itu masih seperti biasanya, udara sejuk merasuk ke sendi-sendi, menusuk lembut membangunkan gue dan adek gue (red: temen kosan gue di sini). 

Udara dan suasana pagi hari di Bogor emang nyaman banget. Tapi suasana Bogor kalau udah mulai siang, sore, dan malam minggu khusunya, macetnya naudzubillah, sumpek. Kayak berita pagi ini dari detik.com yang menyebutkan bahwa Bogor menjadi kota nomor satu paling macet daripada Bekasi. IYAAAA... daripada Bekasi yang berada di nomor urut enam. *tetep ya bawa-bawa Bekasi, biar makin eksis*. Tapi mau bagaimana juga, Bogor enggak mungkin sih diceng-cengin muda-mudi gaul Jakarta. Bisa-bisa dibukain tuh pintu air, banjir deh Jakarta *totally ngancem*.

Kayakna memang harus bersatu padu dah masyarakat dan pemerintah mengatasi kemacetan di Kota-kota besar yang macetnya sudah stadium empat. Ok, ini jadi PR juga buat Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla yang baru saja resmi menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Selamat menjalankan tugas pak, semoga amanah, adil dan dapat membawa Indonesia jauh lebih baik. Terima kasih juga Bapak SBY atas dedikasi tingginya selama sepuluh tahun ini #noperez.

Oke ngomong-ngomong Indonesia, Indonesia itu negara yang punya ke-epic-an dan ke-kece-an alam dan budaya yang ga ada tandingannya seantero jagat raya semesta alam dunia ini. Kita ga perlu mahal-mahal untuk bisa mengunjungi surga-surga yang ada di bumi ini. Mau ke Green Canyon? ada di Pangandaran, mau ke Hawai? ada banyak di Lombok, mau yang kaya Maldives? ada di Raja Ampat, mau lihat menara jam Big Ben di London? ada kok menara jam gadang di Bukit Tinggi, mau lihat salju? ngengsot aja ke Puncak Jaya Wijaya, mau foto di tengah-tengah keramaian Shibuya? bisa di Tanah Abang, Pokoknya semua bisa lo dapetin di tanah air kita ini yang super duber kece.

Kang Jajang dan Beli Wayan, Duta Pariwisata Indonesia 2014 *InsyaAllah
Btw, gue shocked loh bulan lalu temen gue nghabisin lebih dari 40 juta buat berlibur di Raja Ampat. Mak bisa kali yak umroh bareng Syahrini kalau begono. Semahal itukah keliling di negeri kita ini?

Oke don't worry guys. Ngomongin keliling Indonesia, gue punya cara yang jauh lebih murah. Mau tahu banget atau mau sekedar tahu? Bodolah gue jawab aja, mari kita berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tempat dimana elo bisa berkunjung ke 34 provinsi, eh 33 provinsi denk (Provinsi Kalimantan Utara belum bergabung) hanya dengan Rp 10.000.
Woww woww yeahh oh my... 

Pagi menjelang siang hari itu suasana Bogor-Jakarta, tampaknya bakal panas seperti biasanya, berdebu seperti layaknya, dan lama kemungkinannya, Akhirnya kami memutuskan menggunakan Angkutan Perbatasan Terintergrasi Busway (APTB) dari Bogor ke Jakarta. Enggak perlu lah ya gue sebutin nama mereka satu-satu, ga layak banget mereka eksis di blog ini, muehehehe.

Dari Terminal Bubulak Bogor, kami menggunakan APTB jurusan Pasar Senen, turun di Halte Busway Cawang UKI.
Harga APTB = Rp 14.000, tempat duduk nyaman + AC
Selanjutnya, karena sudah terintegrasi, kami enggak perlu bayar busway lagi untuk transit di Halte Busway Cawang UKI. Selanjutnya, kami naik busway ke arah Halte Busway Pinang Ranti dan turun di Halte Busway Garuda Tamini. Lalu, kami melanjutkan perjalanan kurang dari 1KM itu dengan naik angkot T04/T05 dan sampailah di TMII *oke baca tulisan ini ga sepanjang dan secapek kenyataannya*.
Pindah Busway = Gratis; Angkot = Rp 2.500


Bali
Taman Mini Indonesia Indah itu ya kayak taman berbentuk mininya Indonesia yang indah. Jadi abis dari sana, elo bisa kaya pinter banget gitu pengetahuan tentang wawasan kebangsaannya. Mungkin skor Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) di tes CPNS bisa maksimal gitu atau mungkin bener semua, "Aminnnn" jawab ribuan pelamar CPNS.


taken by M. Kevin Bramantyo
Royal Palace of Palembang

Saturday, October 18, 2014

Surabaya: The Heroes City as The Most Orderly and Public Participated City

Mall-mall berdiri gagah berjajar, tinggi besar mewarnai pemandangan dari sekitar Jalan Gubeng. Ini kota kedua yang gue kunjungi, setelah New York Jakarta yang padat dengan Mall. Di radius kurang dari satu KM, dalam jangkauan mata dan masih di area penciuman anjing pelacak, gue sudah melihat beberapa mall, sekitar tiga mall berhadapan dan bertetangga. Mereka diantaranya Plaza Delta (mall tertua), Grandcity Mall (mall termuda) dan WTC (mall yang khusus jual beli hape). Kalau sudah begini, berbagai kalangan alay mungkin bakal ditemuin di kota ini.

Yeah, I was in Surabaya City, The Provincial City and Indonesia's second biggest city. 

Kota Surabaya 
Dolly doly dol, sayangnya kawasan ini sudah ditutup, Mari kita lupakan sejenak... *brb cari situs online* *cari kawasan makan yang lain*

Jalan Tunjungan

Suro lan Boyo
Sebenarnya, beberapa hal tentang Ibukota Jawa Timur ini sesuai dengan dugaan gue. But, there are much more things surprised me about Surabaya City. Pertama ini kota ga terlalu panas atau sepanas hmm oke Tegal dan kota-kota di sekitar pantura atau Semarang Kota. Walaupun Surabaya padat akan gedung-gedung tinggi, tapi kota ini adalah kota dengan jalanan terbersih dan terapih selama gue pernah ke beberapa kota di Indonesia*. Usut punya kusut, Sang Walikota membayar banyak petugas kebersihan untuk bekerja shift-shiftan (+ nasi bungkus) membersihkan jalanan ibukota ini**. Bahkan, kaka gue pernah melihat petugasnya menyikat trotoar jalan *shocked*. Selain itu, Surabaya ini juga punya banyak banget yang ijo-ijo dan seger-seger yang berada di taman kota, sepanjang jalan dan sungai***. 

*beberapa kota di Jawa, Belitung, Bali dan Sulawesi.
**informasi didapatkan dari tour guide (red: tukang ojek setempat)
***pepohonan ;p

As a City of Hero, Surabaya ini menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah khususnya perjuangan para pahlawan. Di Surabaya kita bisa menemukan bangunan-bangunan bersejarah, seperti Tugu/Monumen Pahlwan yang menjadi City Icon kota ini. Selain pemadangan siang hari yang terlihat bersejarah, komplek Tugu Pahlawan juga dapat dinikmati malam hari dengan warna-warni tugunya. Cocok sekali dengan lu yang mukanya sejarah banget. :D


Selain itu, bangunan bersejarah yang lain adalah Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit Surabaya) yang menjadi TKP perisitiwa perobekan Bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi Bendera Indonesia (Merah Putih) pada tanggal 19 September 1945. Peristiwa ini didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman dan Mr. W.V. Ch Ploegman untuk menurunkan Bendera Belanda. FYI harga sewa hotel ini bisa mencapai jutaan rupiah per malamnya loh. Monggo dicoba (jadi waiters) di sana ya. 
Depan Hotel Majapahit Surabaya
Tidak jauh dari daerah-daerah tersebut, tepatnya di depan Balaikota Surabaya, jangan lupa bersandang ke sebuah rumah Es Krim Zangrandi. Es Krim bersejarah zaman penjajahan Belanda, yang didirikan oleh Italian, Renato Zangrandi, 1930. Zaman dulu, rumah es krim ini diberi nama Tutti Frutti Ice Cream. Segelas Ice Cream Banana Float seharga Rp 26.000 worth it banget dinikmati di malam hari itu. Gue aja makanya sambil nangis ga tega *ga tega ama dompet*.

 Ice Cream Banana Float 
Langkah panjang kembali gue sambut esok hari, berjalan kaki di Jalan Darmo menuju Taman Bungkul saja rasanya sudah menyenangkan pagi itu. Taman ini salah satu Taman Kota di Surabaya yang berhasil mengangkat Ibu Walikota, Ibu Risma meraih beberapa penghargaan terkait perkotaan dan partisipasi masyarakatnya. Surabaya dengan padatnya gedung dan mall, tidak membuat masyarakat keabisan ide untuk bermain. Selain Taman Bungkul, ada juga Taman Pelangi, Taman Prestasi, Taman Lansia, Taman Apsari dan masih banyak lagi tempat buat bermain atau sekedar refreshing.

Gue inget banget waktu nungguin lampu merah lamaaaa banget di Taman Bungkul buat nyebrang jalan besar (padat kendaraan). Beberapa saat kemudian setelah seorang wanita berjalan melintas, ternyata lampu berubah merah jika ditekan tombol penyebrangannya. Ini salah satu lampu merah manual yang digunakan untuk menyebrang jalan di Surabaya. Waktu yang diberikan untuk menyebrang kurang lebih 10 detik. Oke, bego yaa gue sampe nunggu lebih dari 10 menit :(  *pantes orang pada ngliatin prihatin*
Bersih tanpa upil kering secuipun
Sore itu juga, gue menyempatkan sebuah kebun binatang yang cukup fenomenal karena banyak berita tentang satwanya yang mati mendadak. Ya, Kebon Binatang Surabaya atau biasa orang sebut Bon-Bin. Begitu masuk ke dalam, kawasan ini lumayan berpengunjung walaupun di hari kerja. Selain binatangnya, tepat di depan Bon-Bin juga ada patung/tugu yang juga menjadi ikon Kota Surabaya, Tugu Sura dan Buaya. Mari kita tengok saudara anda.

Tugu Taman Suro ing Boyo
Burung Pelikan
Surabaya sudah memiliki transportasi angkutan kota (angkot) yang cukup. Angkot di Surabaya biasa disebut "Lyn" ama warganya, contohnya Lyn A, D, V dan sebagainya. Biaya naik angkot hanya Rp 4.000 jauh-dekat (kalau dekat banget, Rp 2.000 masih boleh). Walaupun begitu, beberapa tempat menarik malam itui cukup berdekatan, sehingga cukup ditempuh dengan berjalan kaki saja. Perjalanan malam itu ditutup dengan keceriaan dan kesegaran air mancur di depan Balaikota Surabaya. Susah mendeskripsikannya, mungkin beberapa gambar yang  telah gue ambil ini bisa kalian simak. Gue aja bawaanya pengin lepas baju, terus seluncuran sambil kayang di atas air mancurnya :D
Air Mancur dan Kebahagian di Depan Balaikota

Air Mancur dan Kebahagian di Depan Balaikota

Air Mancur di Depan Balaikota

Bertiga
Oya tidak afdol rasanya untuk menikmati Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Surabaya-Madura. Cukup dengan Rp 6.000 pp sebagai uang tiket masuk untuk bisa menikmati jembatan terpanjang itu lengkap dengan sejuknya angin dan luasnya lautan sebagai pemandanga yang memanjakan mata.

Sesampainya di Bangkalan sana (Madura), jangan lupa sejenak menikmati gurih dan pedasnya Bebek Goreng dan Bakar Sinjay lengkap dengan lumuran kelapa/srundeng goreng gurih dan sambelnya. Cobain juga Rawon Setan di Jalan Tunjungan Plaza, Lontong Balap (plus sate kerang) Pak Gendut di Jalan Dr. Moestopo depan PDAM Surabaya dan Sego Sambel di sepanjang jalan di Surabaya.
Makan makan makan... maknyosss

Nasi Rawon Setan

Not only physically, getting cleaner and more orderly but also mentally, the level of public awareness and participation in keeping Surabaya beautiful.

Tuesday, October 7, 2014

Jogja: Adem, Ayem, lan Tentrem

Jogja Jogja tetap istimewaIstimewa negerinya istimewa orangnyaJogja Jogja tetap istimewaJogja istimewa untuk Indonesia
Rungokno iki GATRA seko NgayogyakartaNegeri paling penak rasane koyo swargoOra peduli dunyo dadi nerokoNing kene tansah edi peni lan mardiko
Tanah lahirkan tahta, TAHTA UNTUK RAKYATDi mana rajanya bersemi di Kalbu rakyatDemikianlah singgasana bermartabatBerdiri kokoh untuk mengayomi rakyat

Penggalan lirik lagu dari Jogja Hip Hop ini kayana emang mantap banget dah. Pas banget gambarin kota yang kece dan pecah ini. Enggak kaya yang disampein ama Tante Fl*rence mahasiswa salah satu PT terkemuka di Indonesia, yang namanya diambil dari patih Kerjaan Majapahit, yang lambang kampusnya berupa matahari/surya berlubang itu, (cukup jelaskan?) yang bicara semena-mena ama Jogja dan warganya.

Gue sendiri sebenarnya belum kenal banget ama kota ini, secara baru tiga kali ini gue ke Kota ini. Tapi, rasanya gue falling in love beud ama neh kota. Beberapa hal yang menurut gue bikin kota ini dicintai ama orang-orang termasuk gue, yaitu:

1. Jogja Tentram
Sebagai kota istimewa yang dipimpin oleh seorang sultan, jogja ini tergolong kota yang tentrem abis. Gue sih jarang banget denger berita kriminal di kota ini. Menurut gue, Sultan sudah bijak memimpin kota ini, dan partisipasi masyarakat Jogja juga sudah aktif dan baik. Kota ini paling memikat gue buat ngabisini umur tua nanti. Muehehehe.

2. Jogja Berbudaya
Kota ini kentel banget ama budayanya.
Gimana enggak, bangunan di sana aja kece abis dengan arsitektur kekeratonan.Ada Keraton Ngayogyakarta, Taman Sari, Mueseum, Pasar, Alun-alun dan sebagainya yang "budaya" abis. Selain itu, tradisi atau adat setempat yang masih dipelihara, menambah "budaya" abis kota ini. Belum lagi, makanan-makanan yang bisa menggoyang lidah, ciamik dah.

Friday, September 26, 2014

Ujung Genteng Beach, Sukabumi: Seaturtle, Wave, and Seafood

“Topik, lo enggak boleh pakai baju ijo loh kalo maen di pantai selatan”
“Iya, biar enggak ditaksir ama nyi roro kidul kan?”
“Enggak lah, kalo pake ijo ntar lo dikira lemper isi sambel goreng ati. Tapi ogah juga sih Nyai naksir lo, muke lo aja kaya begonoan”
“Hahaha, mulut lo disekolahin sampe kelas berapa ya, ora ono pendidikane babarblas”.
Pagi itu, cahaya, bau, dan deru ombak pantai di Ujung Genteng berebut berburu mencuri perhatian gue. Tapi gue sih cuek enggak peduli, gue langsung ke pantai aja berjemur dan menghirup udara pantai pagi hari *atuh itu ke bawa suasana donk pik*. Pantai ini punya ombak yang besar yang memecah keheningan dan mehantam karang. Kalian pernah tahu atau dengar bahwa "Sebanyak apapun sampah yang dilempar ke laut, laut akan memuntahkannya ke daratan"? Bersyukur, gue enggak menemuin seonggok sampahpun yang mengotori pemandangan indah pagi itu. Oya, gue aja baru denger cerita sampah itu kok dari blog ini.
Pelepasan Tukik

Pagi itu selepas sunrise, gue berjalan menyusuri pantai di jalan setapak, sisi kanan gue berupa ombak besar pantai, sisi kiri gue berupa jajaran penginapan sepanjang bibir pantai serta sisi depan gue ada emak-emak nyapu jalan. Sayangnya perjalanan ke Ujung Genteng harus diakhiri pagi itu juga. Perjalanan gue di sini sangat singkat, gue mesti kembali ke Kota Sukabumi, kembali mengais, mencari sesuap nasi. Gue berjalan menuju pelabuhan sekaligus tempat pelelangan ikan yang merupakan starting point trayek satu-satunya angkudes (angkutan pedesaan) di daerah Ujung Genteng ini. 
Angkutan Pedesaan (warna merah) : Rp 10.000 Ujung Genteng-Bundaran Surade
Siang kemarin, gue tiba di Pantai Ujung Genteng sehari sebelum kembali ke Sukabumi. Gue check in di penginapan Hexa. Gue memilih standart/single room dengan fasilitas 2 tempat tidur kecil, kipas angin dan kamar mandi dalam dengan harga Rp 200.000 per malam. Di sana ada juga penginapan dengan harga yang lebih murah, Rp 100.000 per malam (yang lebih mahal, banyak), tapi ya tampaknya masalah sanitasi dan kenyamanan agak kurang memadai. Kalau lo masih mahasiswa atau masih nganggur, bisa dicoba. Silahkan berjalan sepanjang pantai dan tentukan sendiri mana yang kalian mau.

Saturday, September 6, 2014

Where's My Backpack? Here it is, Semak Daun Island Kepulauan Seribu Jakarta

Where's my backpack? Where have you been?

Maaf ya buat sohib-sohib yang dah lama nungguin postingan dari gue. Gue tahu kok sesekali lo ke alamat blog gue, tapi gak berhasil menemukan postingan baru dan lo beralih ke music video anacondanya Nicki Minaj. #guemaklum. Sabar aja ya, soalnya gue biasanya butuh waktu luang dan mood yang pas buat ketak-ketik #soksibuk #padahaljobless #gausahadibahas.

Jadi punya cerita seru apa neh pik?

Setelah cukup lama gue menetap di Sulawesi Barat, finally gue bisa kembali menapakkan jejak di tanah jawa, tanah kelahiran gue. Tepatnya sebelum banget lebaran, gue pulang ke Tegal. Walaupun perjalanan gak gampang, gue mesti stress nyari tiket di Jakarta, macet di Jakarta, numpang di orang Jakarta, kasarnya ngegembel di Jakarta. Yaaahhhh Jakarta-Tegal gue tempuh almost 30 hours, atau lima kali dari waktu normal. #sedih #banget #iyagaksih?

But it doesn't matter yang penting gue tidak melewatkan 30 menit moment tersakral dan terpenting sekali setiap tahunnya buat hidup gue, yaitu "sungkeman" sekeluarga. Saat dimana seribu kata maaf dan literan air mata masih belum cukup dihaturkan ke orangtua dan saudara kandung. #sedikitajalebay

Kalau tadi gue ngomongin sedikit tentang kepenatan di Jakarta, gue pengin sharing neh tentang pengalaman liburan gue di Jakarta. Karena keindahan Indonesia terlalu cantik untuk dianggurin dan didiemin aja. Ok It's time for sharing. Yah, liburan di Jakarta bukan cuma di mall, monas, atau bahkan club malam? *pik gue mau | gue juga mau*. 


Jakarta juga punya kepulauan men... ya KEPULAUAN SERIBU #SENGAJA CAPSLOCK #BIARHEBOH #BIARPENGIN #LOHINIMALAHRUSAKCAPSLOCKSNYA HALAH HALah halah.... #fiuh 


Perjalanan gue dimulai dari Bogor. Setelah gue gak berhasil mengajak teman-teman asrama IPB gue selain si Om Kevin, gue hampir memutuskan menunda liburan gue kali ini. Gue gak mau ya tiba-tiba beredar berita-berita yang tidak diinginkan di sepanjang tembok cina atau di billoard NYC. Hahahaha. 

Sebenarnya gak masalah sih traveling berdua bareng sahabat kalian, tapi gue masih belum siap aja nerima fitnah gegara ngeCamp di sebuah pulau cuma berdua. Hahahaha. 

Pada akhirnya, kurang lebih H-1 jam gue berangkat dari kosan di Bogor, Gilang temen SMA gue berhasil gue ajakin untuk gabung bareng Gue dan Kevin ke Pulau Semak Daun. Malam itu juga, jam 20.00 WIB ditemani hujan rintik-rintik, kami berangkat ke Stasiun Bogor. Sedangkan Gilang, Dia nunggu di Stasiun Kereta Pasar Minggu. Fiuhhh... finally berangkat. Bismillah... 

Friday, June 27, 2014

I'm Friend with an Introvert

Pernah ga lo bicara tapi ga didengar? Pernah lo ngemeng tapi ditinggal pergi? Atau pernah lo lagi ngemeng dilempar panci? Pernah? Kasihannn deh lo… Hahaha.

Bisa jadi bahan pembicaraan lo ga nyambung. Misalnya jaman-jaman pemilu presiden kaya gini, lo malah bahas kehamilan kucingnya SBY atau kawin sirihnya pembantunya. Sumpah ini absurd banget.
Tapi bisa jadi hal yang berbeda. Ada beberapa orang yang tidak cukup minat untuk terlalu banyak ngomong atau bahkan dengerin orang ngomong. Gue kali ini menyebutnya sebagai orang introvert. 

Apakah itu?


Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Dari pernyataan di atas kita dapat mengambil kesimpulan kecil, bahwa Introvert adalah pribadi yang “dalam”. Istilah Introvert ini dipopulerkan oleh seorang tokoh Ilmu Psikologi yang bernama Carl Jung. Ini ada referensi “23 Signs You’re Secretly an Introvert”, mampir ke link ini. Mereka ini adalah orang yang suka menghabiskan waktu dengan minum kopi sendiri untuk "recharge their batteries" . Orang yang suka duduk di belakang sendiri. Orang yang memiliki catatan yang lengkap, dsb.


Link di sini

Dalam berhubungan (badan) dengan orang lain yang jelas berbeda dengan kita, we have to get the connection, whatever the kind of this person.

Lalu bagaimana cara menjalin komunikasi dan koneksi dengan orang-orang yang lebih suka diem, lebih suka sendiri, dan lebih suka maen di atas pohon? Padahal lo mungkin orang yang super duber hyperactive. Hahaha. Atau justru lo orang yang lebih diem lagi, udah aja lo ngobrol cuma eye contact geh. -,-“

Sebelum gue ngasih pendapat mengenai bagaimana harus bersikap dengan sang introvert, gue pengin jelasin beberapa hal yang gue pahami dari mereka. Mereka orang-orang yang gue sayangi dan banggakan tentunya.

1. Orang-orang introverts biasanya adalah orang-orang yang “ga enakeun”. Lihat temen belum makan, dia berbagi makanan. Tahu temennya belum pulang, sebentar dia tungguin. Lihat temennya nyeker ga pakai sandal, dia berbagi sandal jepit satu-satu. Lihat temennya sedih dan merasa kesepian di rumah, dia bakar rumahnya biar rame.  Yeahhh

2. Orang-orang introverts ini  paling enak buat dijadiin tempat curhat. Karena doi lebih banyak mendengarkan ketimbang motong curhatan kita. Setelah lo selesai ngomong, dia tinggal kasih saran sedikit dan clear. Lo pasti puas karena sudah mencurah-ruahkan semua yang jadi uneg-uneg lo. Sebaliknya, jika lo minta dia curhat balik, dia bakal enggan buat curhat. Kalaupun akhirnya dia curhat, itu semata-mata karena belas kasih (red: kasihan) ke elo karena sudah banyak curhat. Hahahaha.

Sunday, June 8, 2014

Finally Graduated: Throwback Part 2

Selamat pagi semuanya.

Lama sekali tidak bersua dengan kalian. Berterima-kasihlah kepada Allah yang membangkitkan daku lewat indahnya pagi ini, so gue mau bercerita dengan kalian #malesbeudpik.

Kalau dilihat dari postingan terakhir, hari ini sedikit berbeda. Sekarang gue lagi ga di Bogor. Lokasi gue saat ini berjarak satu jengkal dari Kota Bogor.

Maksudnya pik? Ga usah gaje gitu deh

Iya, gue berjarak sejengkal dari Kota Bogor, tapi di atas peta #tenonettenonet -,-“ #kriuk #forgetit

Gue lagi di Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Jauh banget ga sih? Hahaha. Tapi sayangnya, saat ini gue belum mau bercerita tentang suka-duka kehidupan di sini, biar penasaran sih maksudnya, hahaha #apasih #lanjut.

Kangen banget ga sih sama campus life kalian? Gue sih iyaaa, jujur gue kangen ama anak-anak Agribisnis 2009 IPB.

Sebelumnya gue sudah posting kenapa akhirnya gue kecelakaan masuk Agribisnis IPB. Waktu yang akhirnya menjawab, betapa bersyukurnya gue bisa lanjut kuliah, bisa kuliah di IPB, dan bisa kuliah di Agribisnis IPB.

*Untuk selanjutnya gue sebut Agribisnis dengan singkatan AGB.

Semester 3. Awal-awal masuk departemen sungguh terasa formal dengan birokrasi mahasiswa baru. Maklum, walaupun sudah setahun di IPB, tapi inilah pertama kalinya kami masuk ke departemen. Di IPB, setiap mahasiswa harus menghadapi masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) di tahun pertama, kemudian baru masuk ke departemen masing-masing. Hanya beberapa orang yang sudah gue kenal di tingkat TPB, kayak si Debby, Rama, Anjani, Aci, dan lain-lain. Sisanya yang gue cuma tahu mereka anak AGB dan cantik-cantik, itu aja (kecuali Uma, Mese, Duse) hahaha #tetep.

Gue agak males buat cerita masa-masa OSPEK (MPD dan MPF), intinya kita berhasil dengan cerobohnya memilih Raihan sebagai CEO Agribisnis 46, atau gampangnya sebagai kacung kami di AGB (red: komti kelas), Hahahaha. Bagaimanapun rupa dan kelakukan cabul nya, kami sangat bangga dan berterima kasih doi mau memimpin kami sampai tua nanti, bahkan sampai mati karena jabatan ini berlaku selama-lamanya, hahaha.

Keseruan MPD kami bisa dilihat di foto-foto ini cok:

badanku sekarang ga begini lagi (red: dah pada melar)
segitiga biru
Gue yang dulu lebih hina :"(
Camen 'cacat mental'
Lihat rambut Deri deh. Mirip apa coba?
Di kelas baru ini, setiap anak AGB sudah punya teman-temannya masing-masing. Tapi, mereka juga sambil berkenalan satu sama lain. Dari awal masuk Departemen AGB kayana anak AGB 46 emang sudah berisik dah. Makanan-minuman jualan dana usaha bertebaran dimana-mana. Pengumuman organisasi dan fotokopi slide menjadi awal kegiatan kami di kelas. Sedikit mahasiswa sudah siap berkompetisi, tapi sebagian besar masih meraba ke-absurd-an materi kuliah di agribisnis. Hahahaha. Hingga sampai akhir semester kami tetap dicap sebagai angkatan yang paling berisik dan sering jadi bahasan di rabuan dosen-dosen. #record #teror #selaludisindirdosendikelas
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...