Saturday, October 18, 2014

Surabaya: The Heroes City as The Most Orderly and Public Participated City

Mall-mall berdiri gagah berjajar, tinggi besar mewarnai pemandangan dari sekitar Jalan Gubeng. Ini kota kedua yang gue kunjungi, setelah New York Jakarta yang padat dengan Mall. Di radius kurang dari satu KM, dalam jangkauan mata dan masih di area penciuman anjing pelacak, gue sudah melihat beberapa mall, sekitar tiga mall berhadapan dan bertetangga. Mereka diantaranya Plaza Delta (mall tertua), Grandcity Mall (mall termuda) dan WTC (mall yang khusus jual beli hape). Kalau sudah begini, berbagai kalangan alay mungkin bakal ditemuin di kota ini.

Yeah, I was in Surabaya City, The Provincial City and Indonesia's second biggest city. 

Kota Surabaya 
Dolly doly dol, sayangnya kawasan ini sudah ditutup, Mari kita lupakan sejenak... *brb cari situs online* *cari kawasan makan yang lain*

Jalan Tunjungan

Suro lan Boyo
Sebenarnya, beberapa hal tentang Ibukota Jawa Timur ini sesuai dengan dugaan gue. But, there are much more things surprised me about Surabaya City. Pertama ini kota ga terlalu panas atau sepanas hmm oke Tegal dan kota-kota di sekitar pantura atau Semarang Kota. Walaupun Surabaya padat akan gedung-gedung tinggi, tapi kota ini adalah kota dengan jalanan terbersih dan terapih selama gue pernah ke beberapa kota di Indonesia*. Usut punya kusut, Sang Walikota membayar banyak petugas kebersihan untuk bekerja shift-shiftan (+ nasi bungkus) membersihkan jalanan ibukota ini**. Bahkan, kaka gue pernah melihat petugasnya menyikat trotoar jalan *shocked*. Selain itu, Surabaya ini juga punya banyak banget yang ijo-ijo dan seger-seger yang berada di taman kota, sepanjang jalan dan sungai***. 

*beberapa kota di Jawa, Belitung, Bali dan Sulawesi.
**informasi didapatkan dari tour guide (red: tukang ojek setempat)
***pepohonan ;p

As a City of Hero, Surabaya ini menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah khususnya perjuangan para pahlawan. Di Surabaya kita bisa menemukan bangunan-bangunan bersejarah, seperti Tugu/Monumen Pahlwan yang menjadi City Icon kota ini. Selain pemadangan siang hari yang terlihat bersejarah, komplek Tugu Pahlawan juga dapat dinikmati malam hari dengan warna-warni tugunya. Cocok sekali dengan lu yang mukanya sejarah banget. :D


Selain itu, bangunan bersejarah yang lain adalah Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit Surabaya) yang menjadi TKP perisitiwa perobekan Bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi Bendera Indonesia (Merah Putih) pada tanggal 19 September 1945. Peristiwa ini didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman dan Mr. W.V. Ch Ploegman untuk menurunkan Bendera Belanda. FYI harga sewa hotel ini bisa mencapai jutaan rupiah per malamnya loh. Monggo dicoba (jadi waiters) di sana ya. 
Depan Hotel Majapahit Surabaya
Tidak jauh dari daerah-daerah tersebut, tepatnya di depan Balaikota Surabaya, jangan lupa bersandang ke sebuah rumah Es Krim Zangrandi. Es Krim bersejarah zaman penjajahan Belanda, yang didirikan oleh Italian, Renato Zangrandi, 1930. Zaman dulu, rumah es krim ini diberi nama Tutti Frutti Ice Cream. Segelas Ice Cream Banana Float seharga Rp 26.000 worth it banget dinikmati di malam hari itu. Gue aja makanya sambil nangis ga tega *ga tega ama dompet*.

 Ice Cream Banana Float 
Langkah panjang kembali gue sambut esok hari, berjalan kaki di Jalan Darmo menuju Taman Bungkul saja rasanya sudah menyenangkan pagi itu. Taman ini salah satu Taman Kota di Surabaya yang berhasil mengangkat Ibu Walikota, Ibu Risma meraih beberapa penghargaan terkait perkotaan dan partisipasi masyarakatnya. Surabaya dengan padatnya gedung dan mall, tidak membuat masyarakat keabisan ide untuk bermain. Selain Taman Bungkul, ada juga Taman Pelangi, Taman Prestasi, Taman Lansia, Taman Apsari dan masih banyak lagi tempat buat bermain atau sekedar refreshing.

Gue inget banget waktu nungguin lampu merah lamaaaa banget di Taman Bungkul buat nyebrang jalan besar (padat kendaraan). Beberapa saat kemudian setelah seorang wanita berjalan melintas, ternyata lampu berubah merah jika ditekan tombol penyebrangannya. Ini salah satu lampu merah manual yang digunakan untuk menyebrang jalan di Surabaya. Waktu yang diberikan untuk menyebrang kurang lebih 10 detik. Oke, bego yaa gue sampe nunggu lebih dari 10 menit :(  *pantes orang pada ngliatin prihatin*
Bersih tanpa upil kering secuipun
Sore itu juga, gue menyempatkan sebuah kebun binatang yang cukup fenomenal karena banyak berita tentang satwanya yang mati mendadak. Ya, Kebon Binatang Surabaya atau biasa orang sebut Bon-Bin. Begitu masuk ke dalam, kawasan ini lumayan berpengunjung walaupun di hari kerja. Selain binatangnya, tepat di depan Bon-Bin juga ada patung/tugu yang juga menjadi ikon Kota Surabaya, Tugu Sura dan Buaya. Mari kita tengok saudara anda.

Tugu Taman Suro ing Boyo
Burung Pelikan
Surabaya sudah memiliki transportasi angkutan kota (angkot) yang cukup. Angkot di Surabaya biasa disebut "Lyn" ama warganya, contohnya Lyn A, D, V dan sebagainya. Biaya naik angkot hanya Rp 4.000 jauh-dekat (kalau dekat banget, Rp 2.000 masih boleh). Walaupun begitu, beberapa tempat menarik malam itui cukup berdekatan, sehingga cukup ditempuh dengan berjalan kaki saja. Perjalanan malam itu ditutup dengan keceriaan dan kesegaran air mancur di depan Balaikota Surabaya. Susah mendeskripsikannya, mungkin beberapa gambar yang  telah gue ambil ini bisa kalian simak. Gue aja bawaanya pengin lepas baju, terus seluncuran sambil kayang di atas air mancurnya :D
Air Mancur dan Kebahagian di Depan Balaikota

Air Mancur dan Kebahagian di Depan Balaikota

Air Mancur di Depan Balaikota

Bertiga
Oya tidak afdol rasanya untuk menikmati Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Surabaya-Madura. Cukup dengan Rp 6.000 pp sebagai uang tiket masuk untuk bisa menikmati jembatan terpanjang itu lengkap dengan sejuknya angin dan luasnya lautan sebagai pemandanga yang memanjakan mata.

Sesampainya di Bangkalan sana (Madura), jangan lupa sejenak menikmati gurih dan pedasnya Bebek Goreng dan Bakar Sinjay lengkap dengan lumuran kelapa/srundeng goreng gurih dan sambelnya. Cobain juga Rawon Setan di Jalan Tunjungan Plaza, Lontong Balap (plus sate kerang) Pak Gendut di Jalan Dr. Moestopo depan PDAM Surabaya dan Sego Sambel di sepanjang jalan di Surabaya.
Makan makan makan... maknyosss

Nasi Rawon Setan

Not only physically, getting cleaner and more orderly but also mentally, the level of public awareness and participation in keeping Surabaya beautiful.

4 comments:

  1. Surabaya memang salah satu kota terindah di Indonesia. Sudah selayaknya Surabaya disebut dunia internasional sebagai kota terpenting nomor dua di Indonesia, setelah Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoiii mamen, bersih dan cakep banget dah. Semoga ke depan semakin baik lagi. Thanks dah berkunjung

      Delete

I'll reply your comment as soon as possible

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...